Rabu, 01 Juni 2011

Pemeriksaan fisik pada bayi dan balita

PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI ATAU BALITA

1.    Pemeriksaan fisik bayi
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik pada bayi  baru lahir, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
·       Bayi sebaiknya dalam kead aan telanjang di bawah lampu terang sehingga bayi tidak mudah kehilangan panas, atau lepaskan pakaian hanya pada daerah yang diperiksa.
·      Lakukan prosedur secara berurutan dari kepala ke kaki atau lakukan prosedur   yang memerlukan  observasi ketat dulu.
·       Pemeriksaan yang mengganggu bayi seperti pemeriksaan refleks dilakukan pada tahab akhir .
·      Bicara lembut, pegang tangan bayi diatas dadanya atau lainnya
2.    Penilaian Apgar Score
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai kemampuan laju jantung, kemampuan bernafas, kekuatan tonus otot, kemampuan refleks dan warna kulit .
3.       Pengukuran Antropometri
Cara:
a.       Lakukan pengukuran berat badan, panjang  badan, lingkar kepala, dan lingkar dada
b.      Lakukan penilaian hasil pengukuran :
1.       Berat badan bayi baru lahir normalnya 2500 sampai 4000gr
2.       Panjang badan normalnya 45-50cm
3.       Lingkar kepala normalnya 33-35cm
4.       Lingkar dada normalnya 30-33 cm, apabila diameter kepala lebih besar 3cm dari lingkar dada maka bayi mengalami hidrocepalus dan apabila kurang dari 3cm maka bayi disebut microsepalus.
4.Pemeriksaan Kepala
 Cara : 
a.       Lakukan inspeksi daerah kepala
b.      Lakukan penilaian pada bagian kepala, diantaranya :
1.       Maulage yaitu tulang tengkorak yang saling menumpuk pada saat lahir asimetris atau tidak
2.       Ada tidaknya caput suksedanum, yaitu edema dikepala, lunak dan tidak berfluktuasi, batasnya tegas  dan menyeberangi sutura dan akan hilang dalam beberapa hari
3.       Ada tidaknya cephal hematome, yang terjadi sesaat setelah lahir dan tidak tampak   pada hari pertama karena tertutup oleh caput. Akan hilang dalam waktu 2-6 bulan.
4.       Ada tidaknya perdarahan, yang terjadi karena  pecahnya vena yang menghubungkan jaringan diluar sinus dalam tengkorak. Batasnya tidak tegas.
5.       Adanya fontanel dengan cara palpasi dengan menggunakan jari tangan. Fontanel posterior akan menutup setelah 2 bulan sedangkan fontanel anterior menutup  pada usia 12-18 bulan.
5.Pemeriksaan Mata
   Cara :
a.       Lakukan inspeksi daerah mata
b.      Tentukan penilaian ada tidaknya kelainan, seperti :
1.       Strabismus, dengan cara menggoyangkan kepala secara pelan-pelan sehingga mata bayi akan terbuka
2.       Kebutaan, seperti jarang berkedip atau sensitifitas terhadap cahaya kurang
3.       Slindrom down, ditemukan epicanthus melebar
4.       Glukoma kongenital, terlihat pembesaran dan terjadi kekeruhan pada kornea
5.       Katarak congenital, apabila terlihat pupil yang berwarna putih.
                                6.pemeriksaan telinga
                          Cara pemeriksaan pada telinga adalah dengan membunyikan  bel atau suara,apabila  terjadi reflek maka pendengarrannya  baik,kemudian  apabila tidak terjadi reflek maka kemungkinan akan terjadi gangguan pendengaran.
7.Pemeriksaan Hidung
Cara:
a. pernafasan,apabila bayi  bernafas melalui  mulut maka kemumgkinan bayi mengalami obstuksi jalan nafas karena adanya antresiakona bilateral,frakltur tulang hidung,atau ensefalokel yang menonjol  ke nasofaring.sedangkan pernafasan cuping hidung akan menunjukan gangguan pada paru.
b.Amati mukosa lubang hidung, apabila terdapat secret mukopurulen dan berdarah perlu dipikirkan adanya penyakit sifilis kongenitial dan kemungkinan lain.
8.Pemeriksaan mulut
Cara:
a.       Lakukan inpeksi adanya kista yang ada pada mukosa mulut
b.      Amati warna, kemampuan reflek menghisap. Apabila lidah menjulur keluar dapat dinilai adanya kecacatan congenital
c.       Amati adanya bercak pada mukosa mulut, palatum dan pipi biasanya disebut dengan monilea albicans
d.      Amati gusi dan gigi, untuk menilai adanya pigmen
                                                                   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar